Teknik Pemotretan yang Bagus Untuk bisa menghasilkan foto yang baik, hal yang sebaiknya dikuasai antara lain adalah teknik-teknik dasar pemotretan dan penguasaan alat. Kriteria foto yang baik sebenarnya berbeda-beda bagi setiap orang, namun ada sebuah kesamaan pendapat yang bisa dijadikan acuan. Foto yang baik memiliki ketajaman gambar (fokus) dan pencahayaan (eksposure) yang tepat. Dengan kata lain foto yang baik, terbentuk dari hasil perpaduan kedua hal tersebut
A. FOKUS Foto dikatakan fokus bila objek terlihat tajam/jelas dan memiliki garis-garis yang tegas (tidak kabur). Focusing ialah kegiatan mengatur ketajaman objek foto, dilakukan dengan: - Manual Focus: memutar ring fokus pada lensa sehingga terlihat pada jendela bidik objek yang semula kurang jelas menjadi jelas (fokus). - Auto focus: dengan menekan setengah tombol shutter release, hingga indikator fokus menyala.
FOKUS BERGERAK
Pemotretan objek yang bergerak menuntut fotografer untuk terus menerus mengubah pengaturan fokus pada kameranya.Pada saat pemotretan fashion show, fotografer menunggu moment saat sang peragawati berada pada pose yang baik dan disain pakaian yang dikenakannya terekam secara maksimal. Beberapa moment yang bagus dalam pemotretan fashion show adalah ketika peragawati sedang berjalan menuju ujung catwalk. Dalam moment tersebut efek gerak dari disain baju bisa tertangkap kamera. Khususnya untuk disain baju yang berkonsep pada rancangan gaun panjang atau long dress. Untuk sudut pemotretan ini lebih bagus pada sisi kanan dan kiri panggung. Karena dari sudut tersebut arah gerak kaki dan sibakan atau lambaian kain bisa terekam dengan baik. Jadi anda tidak perlu kecewa kalo tidak mendapat tempat di depan panggung catwalk. Untuk moment tersebut paling mudah dilakukan dengan kamera ber-lensa AF (auto focus). Karena lensa AF mampu mengejar dan mengunci focus dengan cepat pada obyek yang bergerak. Selama obyek yang bergerak tersebut mendapat pencahayaan yang cukup terang, sehingga mampu dibaca oleh sensor kamera.
FOKUS JEBAKAN

Pada hal-hal tertentu, kita harus memfokus dengan perkiraan karena berbagai hal, misalnya obyeknya akan lewat dalam waktu singkat, atau pada waktu yang tak terduga, atau pada keadaan yang tidak memungkinkan kita memotret dengan kondisi normal. Menyetel fokus dengan perkiraan tanpa membidik disebut dengan istilah preset focus. Salah satu contoh pemotretan yang menggunakan teknik preset focus adalah pada pemotretan fashion di catwalk. Ada beberapa fotografer ketika memotret fashion cenderung mengambil moment pada saat sang peragawati pose di atas catwalk atau sambil memain-mainkan ornamen atau asesoris yang ada pada baju yang dibawakan (misal: selendang, gaun yang panjang dll). Atau juga ketika berjalan menuju ke ujung catwalk (seperti pada kasus topik fokus bergerak). Pada teknik ini, fotografer yang memakai lensa manual terlebih dahulu menyetel fokus dengan memperkiraan fokus pada posisi sang peragawati akan melakukan gerakan-gerakan posenya.
Suatu contoh : fotografer yang memakai lensa fokus manual ingin memotret setiap peragawati yang pose di ujung catwalk. Pada umumnya peragawati hanya pose dalam hitungan detik. Jadi sang fotografer harus bisa menangkap moment yang sangat singkat tersebut. Daripada harus mengubah-ubah setelan fokus, dia mengambil fokus benda yang berada dan sejajar di area sang peragawati yang akan pose. Seperti bagian tepi kanan kiri catwalk, kemudian mempertahankan posisi fokus tersebut. Pengalaman saya, dulu saya memakai lakban / selotip untuk mengunci fokus lensa manual saya. Sehingga ring fokus lensa tidak berubah. Tetapi seperti biasa, apabila dilakukan dengan lensa AF, maka fotografer hanya perlu mengatur lightmeter pada kamera untuk mendapatkan pencahayaan yang normal.
Selain masalah fokus, satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemotretan fashion di atas catwalk adalah masalah pengaturan white balance (WB) kamera. Pada umumnya di setiap pagelaran fashion khususnya di Indonesia, type lighting yang dipakai mulai dari lighting panggung sampai lighting spot untuk peragawati yang berpose adalah type tungsten.Type lampu tungsten yang terekam di kamera digital akan membentuk imaji objek dengan nuansa kuning. Tanpa disadari nuansa kuning tersebut akan mengganggu dan mengubah nuansa warna baju yang dikenakan oleh peragawati.
B. EKSPOSURE (PENCAHAYAAN) Hal paling penting yang harus diperhatikan dalam melakukan pemotretan adalah unsur pencahayaan. Pencahayaan adalah proses dicahayainya media rekam (film atau sensor digital) yang ada di kamera. Cahaya yang diterima objek harus cukup (tidak berlebihan atau kekurangan) sehingga dapat terekam dengan baik oleh media rekam. Proses pencahayaan (exposure) menyangkut perpaduan beberapa hal, yaitu besarnya bukaan diafragma, kecepatan rana dan kepekaan media rekam (ISO). Ketiga hal tersebut menentukan keberhasilan fotografer dalam mendapatkan media rekam yang tercahayai normal, yaitu cahaya yang masuk ke media rekam sesuai dengan yang dibutuhkan objek, tidak kelebihan cahaya (over exposed) atau kekurangan cahaya (under exposed) . - Pencahayaan normal (norm eksposure) berarti warna yang muncul pada hasil foto sesuai dengan yang diharapkan. - Kelebihan pencahayaan (over exposed) mengakibatkan hasil warna foto lebih putih dari keadaan normal, foto kehilangan detail - Kekurangan pencahayaan (under exposed) mengakibatkan hasil warna foto menjadi lebih gelap. Mencahayai media rekam (film atau sensor digital) dapat diibaratkan dengan membuka kran untuk mengisi air ke dalam ember. Cahaya diumpamakan sebagai air - ASA/ISO/DIN kita umpamakan sebagai ukuran ember, ASA rendah berarti ember yang kita gunakan lebih besar, sehingga membutuhkan air (cahaya) yang lebih banyak - Besar kecilnya lubang kran ialah diafragma, lubang (bukaan) besar, berarti air (cahaya) yang masuk lebih banyak, sehingga pengisian air dalam ember menjadi lebih cepat - Kecepatan rana diumpamakan waktu yang kita gunakan untuk memenuhi ember tersebut dengan air hingga penuh. Waktu yang digunakan untuk mengisi ember tersebut harus tepat sehingga tidak sampai lebih atau kekurangan. - Bukaan Diafragma (apperture) Diafragma berfungsi sebagai jendela pada lensa yang mengendalikan sedikit atau banyaknya cahaya melewati lensa. Ukuran besar bukaan diafragma dilambangkan dengan f/angka. Angka-angka : 1,4 ; 2 ; 2,8 ; 4 ; 5,6 ; 8 ; 11 ; 16 ; 22 ; dst. Penulisan diafragma ialah f/1,4 atau f/22. Angka-angka tersebut menunjukkan besar kecilnya bukaan diafragma pada lensa. Bukaan diafragma digunakan untuk menentukan intensitas cahaya yang masuk. Hubungan antara angka dengan bukaan diafragma ialah berbanding terbalik. “Semakin besar f/angka, semakin kecil bukaan diafragma, sehingga cahaya yang masuk semakin sedikit. Sebaliknya, semakin kecil f/angka semakin lebar bukaan diafragmanya sehingga cahaya yang masuk semakin banyak.” bukaan diafragma: http://i297.photobucket.com/albums/mm240/puanz/cam4.gif - Kecepatan Rana (shutter speed) Kecepatan rana ialah cepat atau lambatnya rana bekerja membuka lalu menutup kembali. Shutter speed mengendalikan lama cahaya mengenai media rekam. Cara kerja rana seperti jendela. Rana berada di depan bidang media rekam dan selalu tertutup jika shutter release tidak ditekan, untuk melindungi bidang media rekam dari cahaya. Saat shutter release ditekan, maka rana akan membuka dan menutup kembali sehingga cahaya dapat masuk dan menyinari media rekam. Ukuran kecepatan rana dihitung dalam satuan per detik, yaitu: 1 ; 2 ; 4 ; 8 ; 15 ; 30 ; 60 ; 125 ; 250 ; 500 ; 1000 ; 2000 ; dst dan B (Bulb) untuk kecepatan tanpa batas waktu (rana membuka selama shutter release ditekan). Angka 1 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/1 detik. Angka 2000 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/2000 detik, dst. Hubungan antara angka dengan kecepatan rana membuka menutup ialah berbanding lurus. “Semakin besar angkanya berarti semakin cepat rana membuka dan menutup, maka semakin sedikit cahaya yang masuk. Semakin kecil angkanya, berarti semakin lambat rana membuka dan menutup, maka semakin banyak cahaya yang masuk” - Kepekaan media rekam (ISO) terhadap cahaya Media rekam memiliki berbagai ukuran kepekaan cahaya. Satuan ukuran ini biasa disebut: - ASA : American Standard Association, satuan yang banyak digunakan di dunia - DIN : Deutch Industri Norm, satuan ini banyak digunakan di Jerman dan di daerah Eropa - ISO : International Standard Organization, satuan internasional gabungan ASA dan DIN. Misal ASA 100 dan DIN 210, menjadi satuan ISO 100/210. Makin kecil satuan media rekam (semakin rendah ISO), maka media rekam makin kurang peka cahaya sehingga makin banyak cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari media rekam tersebut, sebaliknya semakin tinggi ISO maka media rekam semakin peka cahaya sehingga makin sedikit cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari media rekam tersebut. Misal, ISO 100 lebih banyak butuh cahaya daripada ISO 400.
0 komentar:
Posting Komentar